Ancaman Utama Keanekaragaman Hayati

Posted: 8 Juni 2011 by Zalfa' Aqilah in Konservasi
Tag:, , , , ,

keanekaraman hayatiKerusakan ekosistem terjadi akibat ulah manusia yang sengaja mengubah, mendegradasi, dan merusak bentang alam dalam skala luas.  Kerusakan ekosistem tersebut mendorong spesies dan bahkan komunitas menuju ancaman kepunahan.
Ancaman yang paling utama terhadap keanekaragaman hayati akibat aktifitas manusia adalah dapat berupa :

1. Perusakan Habitat
Penyebab utama hilangnya SDA bukanlah dari Perubahan Iklim, Masuknya Spesies asing (eksotik) dan eksploitasi manusia secara langsung, melainkan kerusakan habitat sebagai akibat yang tak dapat dihindari dari bertambahnya populasi penduduk dan kegiatan Manusia. Seperti halnya kasus local dusun Pengekahan di daerah Lampung Barat, perubahan tata guna lahan akan terus menjadi factor utama yang mempengaruhi SDA. Ancaman genting terhadap habitat utama yang memiliki pengaruh besar keberadaan Spesies adalah pertanian (38%), Pembangunan Komersial (35%), Proyek Air (30%), reaksi alam terbuka (27%), Pengembalaan Ternak (22%), Polusi (20%), Infrastruktur dan jalan (17%), Gangguan kebakaran alami (13%), dan penebanganan pohon (12%). (Stein dkk. 2000)

2. Fragmentasi Habitat
Fragmentasi Habitat adalah peristiwa yang menyebabkan habitat yang luas dan utuh menjadi berkurang serta terbagi-bagi. Antara satu fragment/ perca dengan lainnya seringkali terjadi isolasi oleh bentang alam yang terdegradasi atau telah berubah. pada bentang alam daerah tepinya mengalami serangkaian perubahan kondisi yang dikenal dengan istilah efek tepi. Hal ini seperti ini Kerapkali terjadi daerah Konsesi pengelolaan Wildlife yang sengaja membuat lintang jalan ataupun untuk menciptakan  habitat tepi yang terfragmentasi.

Tujuannya untuk menciptakan habitat tepi yang terbuka hingga banyak muncul tumbuhan baru yang disukai Spesies Herbivora pada dasarnya.
Efek tepi sebagaimana dijelaskan diatas, dapat menambah daerah tepi secara drastic. Lingkungan mikro daerah tepi berbeda dengan lingkungan mikro tengah, beberapa efek dari fragmentasi areal yang harus diperhitungkan lebih dalam adalah dampaknya terhadap spesies pendukung ekosistem, seperti ; Naik turunnya intensitas cahaya, suhu, kelembaban, dan kecepatan angin (Laurance 2000). Efek tepi masih dapat dideteksi  sejauh min 250m kedalam hutan. Oleh karena Spesies tumbuhan (khususnya) dan hewan biasanya teradaptasi oleh suhu, kelembaban dan intensitas cahaya tertentu saja, perubahan tersebut dapat memusnahkan banyak spesies mikro sampai dengan makro.
Ketika area sudah ter fragmentasi atau tersub-populasi, masing-masing dengan daerah yang terbatas , hal ini juga dapat mempercepat proses pemunahan. Populasi yang kecil sangat rentan dengan perkawinan silang dalam atau perkawinan sedarah (inbreeding), penurunan genetic (genetic drift) dan masalah yang terkait dalam low population. Dan yang terburuk dari fragmentasi habitat adalah tepi efek dapat menciptakan evolusi tanaman atau pun microba pengganggu spesies yang akhirnya mendominasi habitat dan serangan spesies asing.

3. Degradasi Habitat (termasuk Polusi)
Indonesia, salah satu degradasi lingkungan terbesar yang kerap terjadi dan harus diatasi adalah kebakaran hutan yang sangat berdampak pada ekosistem sekitarnya dan kelestarian habitat. Bentuk paling umum dari degradasi adalah polusi. Polusi yang disebabkan oleh pestisida, limbah rumah tangga, gas / asap yang dikeluarkan oleh  limbah pabrik, mobil.

4. Perubahan Iklim Global
Secara alami karbondiosida (CO²), gas metana (CH4), dan gas – gas lainnya dalam jumlah kecil di atmosfer dapat meneruskan cahaya matahari sehingga menghangatksn permukaan bumi. Uap air dan gas – gas tersebut dalam bentuk awan, menahan pantulan energi panas dari permukaan bumi. Pengeluaran panas dari bumi keangkasa menjadi diperlambat. Gas ini disebut gas rumah kaca karena fungsinya yang sama dengan rumah kaca. Dampak yang sama terjadi dengan di bumi. jika rumah kaca bertambah drastic bisa menimbulkan Dampak negative terhadap daratan serapan panas surya yang berlebihan dan memacu panas perut bumi bergejolak takterkendali sehingga dapat menciptakan bencana alam seperti gempa tektonik, desertifikasi lahan, pencairan gunung es yang akhirnya menambah debit air di bumi secara drastic, perubahan dataran akibat tekanan panas dari permukaan dan dasar bumi.  Sedangkan dampak pada lingkungan laut, penyempitan daratan yang tertutup es dikutub utara dan antartica, proses ini akan terus bertambah dengan cepat dan akan menambah ketinggian permukaan laut setinggi   9-88cm sehingga dapat membanjiri komunitas pesisir ang posisinya lebih rendah atau low lying islands (sumber data : http//www.ipcc-wg2.org/).  Hasil penelitian Fred Pearce (2002), disimpulkan bahwa 10% es yang menyelimuti bumi telah mencair sejak tahun 1960, sementara ketebalan es dikutub utara telah mengalami pencairan es salju sebanyak 42% dalam 40 tahun terakhir. Peningkatan debit air dilaut dan perubahan suhunya dapat menjadi ancaman bagi terumbu karang dan ganggang yang hidup simbiotik. Dan ini masih terus berlangsung sampai dengan sekarang. Di India kematian massal trumbu sudah mencapai 70%, di Indonesia sudah mengalami proses pemutihan karang sebesar 30%, dikepulauan seribu sudah mencapai 90 – 95 % trumbu karang hingga kedalaman 25m mengalami kematian, hal ini dapat mendorong biota – biota laut akan bermigrasi. Dampak luas pemanasan global, perubahan iklim dapat merubah komunitas biologi secara radikal dan menekan angka populasi dari spesies. Yang akhirnya kawasan yang dilindungipun tidak dapat menyandang atau menyelamatkan spesies critically endangeredSalah satu solusi dari habitat spesies adalah dibentuknya kawasan perlindungan yang cocok dan baru, rute – rute migrasi yang potensial seperti lembah dan sungai di utara dan selatan, sangat perlu diidentifikasi lebih dini dan dilindungi. Solusi kedua adalah penangkaran spesies dengan membuat habitat imitasi dengan mencontoh habitat asli spesies tersebut.

5. Pemanfaatan Spesies secara berlebihan
Ekploitasi berlebihan yang dilakukan oleh manusia diduga telah mengancam 1/3 mamalia dan burung yang genting dan rentan kepunahan. Untuk bertahan hidup manusia selalu berburu daging hewan liar “Bushmeat” dan memanen makanan serta sumber daya alam hayati, ironisnya manusia saat ini sudah banyak yang mulai meninggalkan culture lama yang sangat bersahabat terhadap habitatnya (landscape kecil kampung) seperti tidak memburu anak satwa dan berburu betina pada musim – musim tertentu, melestarikan dan memanfaatkan sumber daya alam hayati agar dapat dipanen secara berkala dan turun temurun. Hal ini masih dilakukan oleh masyarakat sebagian kecil suku dayak di pulau Kalimantan yang dipercayai (Religi kaharingan) mereka, alam adalah element yang dapat menghidupkan manusia, karena itu manusia tidak berhak menyeleksi alam sebab alamlah yang akan menyeleksi manusia. Bagaimanapun, mengingat culture yang ada telah memasukan bushmeat sebagai makanan tradisional maka dalam beberapa hal perlu dilakukan upaya rekonsiliasi antara konservasi dan culture agar perubahan prilaku dan pola Konsumsi dapat terjadi secara partisipatif dan tidak menimbulkan keresahan setempat (Indrawan, 1999).

Perdagangan mahluk liar yang legal dan illegal mempunyai andil atas menurunya populasi banyak spesies. Perdagangan mahluk hidup liar di seluruh dunia bernilai lebih dari US$ 10 Miliar per tahun, tidak termasuk ikan yang dapat dikonsumsi. Masalah pemanfaatan komersial pemerintah dan industri sering menyatakan bahwa dengan menerapkan prinsip – pirinsip pengelolaan ilmiah modern yang lebih dikenal dengan MSY (Maximum Sustanible Yield) pemanfaatan berlebihan spesies liar dapat dicegah. Nyatanya, panen lestari jarang sekali dapat dicapai. Diperlukan upaya – upaya konservasi yang sangat besar dalam pemulihan populasi spesies. Melalui penegakan hukum Nasional dan Internasional termasuk CITES(Convention on International Trade in Endangered Spesies) maka populasi dan spesies mungkin akan kembali seperti semula. Contoh ; Burung Curik Bali (Leucopsar Rothscildii) merupakan burung paling lanka didunia, Spesies ini termasuk dalam katagori “kritis” oleh IUCN dan Birdlife International (Birdlife International 2001)

6. Invasif 
Spesies – spesies asing
Spesies Eksotik adalah spesies yang terdapat diluar dari distribusi alaminya. Biasanya spesies eksotik sulit untuk bertahan didaerah alam yang diintroduksinya dikarenakan oleh factor alam dan sebaran pendukung, tetapi populasinya akan dapat melonjak drastic apabila spesies tersebut dapat beradaptasi dihabitat baru tersebut. Hal ini dapat menimbulkan ancaman untuk spesies endemic disekitarnya. Invasi spesies asing terjadi berdasarkan beberapa factor, yang berasal dari evolusi spesies baru dampak dari Fragmentasi habitat atau pun sengaja dibawa oleh manusia.

7. Meningkatnya penyebaran penyakit
Ancaman utama lain bagi spesies dan komunitas biologi adalah meningkatnya penularan penyakit akibat berbagai kegiatan manusia. Intraksi langsung dengan manusia dapat meningkatkan resiko penularan penyakit. Secara tidak langsung penularan penyakit dapat terjadi akibat dari kegiatan dan pembangunan manusia.

(dari berbagai sumber)

About these ads
Komentar
  1. [...] Ancaman Utama Keanekaragaman Hayati [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s