“BUNTU SIMBOLONG” in my childhood

Posted: 1 Mei 2011 by Zalfa' Aqilah in My Village
Tag:, ,

simbolong

Kurang lebih 20 THN YANG LALU……(sktr tahun 1985-1989).. Munkin sebagian besar anggota grup RUBSI belum lahir waktu itu…. heheheterbayang jelas ketika itu, 98 % penduduk d sekitar kaki buntu simbolong… memiliki kuda… tak mau ketinggalan, aku pun meminta sama ortu tuk dibelikan kuda yang pada waktu itu masih dibeli dengan harga 140.000 rupiah.. sejak itu, jadilah aku sebagai joki kuda tiap pergi ke sekolah… tapi masalah kemudian muncul, aku tidak punya lahan rumput yang luas.. nenek (almarhum) yg py pilla’ & tambaga mengajar aku bagaimn memelihara kuda. Setiap pulang sekolah, aku di ajak nenek k buntu simbolong yang memang jadi lahan sebagian besar ternak orang kaban dan batu kede.. aku diajari bagaimana menambatkan kuda pada rumput yang tumbuh d lereng2 gg buntu simbolong.. aku diajar bagaiman menempatkan kuda pada lereng2 yang kemiringannya sampai 45 – 60 derajat… Akhirnya aku jadi akrab dengan kondisi alam buntu simbolong.. Namun seiring waktu … pencuri kuda mulai marak d kampung kampung.. saya dan semua yang punya kuda tak berani lagi membiarkan kudanya mencari rumput di buntu simbolong pada malam hari..

Karena rumput buntu simbolong yang memang istimewah, akhirnya saya dengan teman2 yang punya kuda balapan waktu itu, tiap hari sepulang sekolah selalu ke buntu simbolong memotong rumput buat makanan si Pilla’ pada malam harinya… aktivitas ini tak pernah kulewatkan sampai aku tamat di sekolah yang sangat berjasa dalam memberi pengetahuan dasar buat Q.. SDN NO. 93 Parandean.

Tahun itu juga aku harus memikirkan masa depan sekolahQ.. Q memutuskan untuk meninggalkan kampung kaban dan pindah ke Cakke.. Masih teringat jelas waktu itu, pagi, tanggal 15 Juli tahun 1989, aku melewati lereng gunung simbolong (yg skarang jadi jalan poros baroko – kotu) menuju SUDU..

Waktu itu buntu simbolong bukan cuma milik peternak kuda, tapi pemilik kerbau dan sapi-pun memanfaatkan buntu simbolong sebagai lahan ternak yang bagus… rumputnya yang tak pernah kering walau dihantam terikanya matahari, tak pernah terjadi kekeringan d sana.. sebagian warga yang dekat dengan lereng buntu simbolong memanfatkan mata air yang keluar dari kaki buntu simbolong sebagai minuman.. airnya tak pernah mati karena waktu itu mmng masih hijau.. Hm… jujur aja, selama di cakke, yang pertama terbayang di benak ketika ingat kampung adalah bayangan buntu simbolong. dukungan suasan dan posisi rumah yang tepat menghadap puncak buntu simbolong menambah kerinduan tuk selalu dekat dengan tando2.. hehehe (teras rumah) memandangi buntu simbolong yang masih hijau… Memang masih hijau karena waktu itu semua permukaannya masih ditumbuhi rerumputan yang hijau…

Tak terasa waktu sudah berlalu dan 6 tahun telah kulewati di cakke.. tibalah masanya aku harus meninggalkan kabupaten yang kaya dengan pemandangan alam… aku harus ke ibu kota untuk melanjutkan penddikan ke tngkat yg lbh tinggi (Universitas), yang waktu itu, masih sangat jarang orang di kampung yg berhasil masuk unhas dan IKIP Ujung pandang.. Dukungan do’a ortu dan seluruh teman yg kutinggalkan d kmpung membuat tekadku bulat untuk masuk ke sana.. Alhamdulillah tahun 96 aku benar diterima dan menjadi org pertama d keluargaku yg berhasil masuk di perikanan, tapi sayang aku harus ke kota manado, tapi tak apalah krn mmng manado adalah mimpiku sejak kecil.. (mimpi I jadi kenytaan).. dan yang lebih indah karena mimpi itu lahir di buntu simbolong.. benner2 sebuah keajaiban.

Tapi itu dulu….. dulu ketika buntu simbolong masih hijau dan bersih dari perkebunan jangka pendek.. ketika semua air yang jatuh dari langit masih meresap bagus karena tertahan dengn rerumputan yang hijau..

sekarang, suasana itu tak tampak lagi d sana.. warnah hijau yang dulunya menghiasi puncak buntu simbolong kini telah berubah warna menjadi kecoklatan.. bukan sebuah larangan, tapi alangkah indahnya kalau masih tersisa lahan setapak buat menyimpan air dan sebagai lahan refreshing buat yang ingin melepaskan kepenatan…

oh buntu simbolong… kenangan bersamamu tak pernah sirna.. kau telah banyak melahirkan inspirasi bagi kaum muda di sekitarmu.. posisimu yang terletak di tengah2 perkampungan sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai  lokasi wisata yang sangat strategis.  …hari ini masih byk yg peduli dengan nasibmu.. kembalilah hijau seperti semula biar kami tak bosan memandangmu.. skrg dan selamanya.. karena kau bagian dari hidupku.

Iklan
Komentar
  1. tyo berkata:

    bt simbolong di mn tuch ?

  2. iwan berkata:

    sejuk dan indah…
    gunung yg penuh kenangan 🙂

  3. ima berkata:

    🙂

  4. dinar jama berkata:

    ini gunung yg paling sering di hijaukan waktu setiap ada perkemahan pramuka di kira, tapi selalu paling sering juga di bakar ….,sebagian warga kampung menggelari gunung ini sekarang sebagai “buntu maksiat” 😦

  5. PEA KAKOBI berkata:

    skrg udah bedaa.. klo musim kemarau datang,, rumptnya kering dan berubah jadi kuning kecoklatannn…. hal ini mengundang tangan2 usil untuk mngganggu,y…… entah iseng ato sengaja,,, sering kali tiap musim kemarau datang,, hampir sebagian besarr rumput yg menutupi permukaan buntu simbolong habis terbakarr……………… sungguh tidak bertanggung jawab…

    padahal, buntu simbolong saat ini mnjadi tmpat favorit anak2 muda to duri untuk memadu kasih (pacaran). merekka begitu terpesona dgn keindahan.y, tpi tak ada kesadaran dari dri mrka untk menjga.y….. sampah2 pembungkus makanan, minuman dan rokok berserakan dmna mna……………………………………………………………………..

  6. Fahmi berkata:

    Indah sekali BUNTU SIMBOLONG ini, selain itu Buntu Simbolong juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Jadi baiknya kita menjaga keindahan dan kelestarian BUNTU SIMBOLONG ini agar kelak anak cucu kita bisa mengunjunginya dengan kondisi tetap asti dan indah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s